MALANG – Balai Pengkajian Tekhnologi Pertanian (BPTP) Jatim mengadakan Temu Nasional Inovasi Pengelolaan, Pemanfaatan dan Festival Sumber Daya Genetik Lokal, di kantor BPTP Jatim di Jalan Raya Karangploso KM 4, Kabupaten Malang, Selasa (7/11/2017) hingga Rabu (8/11/2017)

Dalam pertemuan yang dilanjutkan Seminar Nasional terkait Strategi Pengelolaan Pemanfaatan Sumber Daya Genetik (SDG) Lokal Bersama Masyarakat dalam Mencapai Lumbung Pangan Dunia, Pemerintah Indonesia dirasa sangat kurang dalam mendukung petani memuliakan dan memproduksi sendiri benih unggulnya.

Hal itu berakibat fatal pada ketahanan negara akibat ketergantungan petani pada benih hibrida yang diproduksi korporasi, baik itu BUMN maupun korporasi swasta nasional dan multinasional.

Untuk itu, BPTP Jatim mengajak seluruh petani berdaulat terhadap penggunaan benih lokal. Data mencatat, dari kebutuhan benih padi nasional sebanyak 300 ribu ton, 40% disuplai oleh 2 BUMN yaitu PT Sang Hyang Sri (Persero) dan PT Pertani (Persero).Sementara 60% diserahkan pada pasar bebas, tercatat sejumlah perusahaan swasta nasional dan multinasional berupaya terus untuk memperbesar penguasaan atas benih pangan pokok di Indonesia.

“Hari ini kita lakukan temu nasional dengan petani terkait sumberdaya genetik. Dari agenda ini, kita bisa bertemu dengan seluruh stake holder dan penyuluh untuk berkomitmen ke depan kita tidak boleh melupakan asal usul pangan lokal,” ungkap Chendy Tafakresnanto Ketua BPTP Jatim, Selasa (7/11/2017).

Menurutnya, dari pertemuan selama dua hari itu, bukan hanya mengoleksi benih semata. Tapi masing-masing benih atau varietas tadi memiliki keunggulan.

Rentannya kedaulatan petani atas benih, ketergantungannya pada benih hibrida yang harus selalu dibeli setiap kali musim tanam, menjadi salah satu penyebab dari semakin mundurnya kualitas kehidupan petani di Indonesia.

“Pemerintah daerah tidak tahu varietas ini seperti apa sih, disinilah nanti kita dorong ada sertifikat benih,” paparnya. “Ini yang luput dari perhatian pemerintah. Balai penelitian benih memang didirikan, tetapi hasil penelitiannya kemudian tidak diserahkan kepada petani untuk diproduksi sehingga petani juga dapat menguasai hulu rantai pasok produksi,” sambungnya.

Haris Syahbudi Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) di Bogor menerangkan, kalau Indonesia sebetulnya memiliki kekayaan genetik sehingga harus dimanfaatkan dengan baik.

Kekayaan genetika pertanian itu tersebar di daerah-daerah. Jika pemerintah daerah memahami betul tentang hal itu, maka bisa menjadi penunjang kesejahteraan daerah.

“Kita kaya genetik sehingga harus benar-benar dimanfaatkan baik daerah maupun provinsi. Kesempatan ini harus benar-benar dimanfaatkan,” ujarnya.

Bahkan dikatakannya, dunia internasional mulai melirik daerah yang memiliki kekayaan SDG khususnya pangan. Pengelolaan tidak boleh setengah-setengah agar kesempatan itu bisa dikelola secara penuh oleh bangsa Indonesia sendiri.

“Mereka tengah gencar melakukan diversifikasi usaha, khususnya pangan karena paling penting. Makanya indonesia yang kaya harus memanfaatkannya, programnya harus makin nyata,” tegasnya.

Sementara itu, Mastur, Pakar Litbang Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, menambahkan, Indonesia kaya akan sumberdaya genetik nomer dua di dunia. “Kita ini kaya nomer dua, tapi harus dilestarikan. Ada tanaman yang tidak tinggi produksinya, tapi luar biasa tahan terhadap cuaca. Gen nya nanti bisa kita silang untuk bisa produksi tinggi,” bebernya.

Kata Mastur, benih varietas bagus penting untuk di daftarkan. Sumberdaya genetik lokal, yakni hasil karya petani dari hutan yang jauh lalu dikumpulkan didekat rumah. Setiap panen dipilih bertahun-tahun sehingga jadi varietas lokal.

“Itu adalah milik petani, harus. Tidak bisa dikomersialkan,” katanya.

Padahal pada kekayaan benih asli lokal (heirloom seed) yang dimiliki turun temurun di semua komunitas masyarakat tradisional di Indonesia, terdapat kekayaan tersedianya benih yang adaptif terhadap iklim dan ekologi setempat.

Kekayaan plasma nutfah ini salah satu hal yang sangat strategis untuk bisa menjamin kemampuan warga memproduksi tanaman yang diperlukannya baik untuk pangan maupun non pangan.

Indonesia sendiri sebagai negara di wilayah tropis menyimpan kekayaan yang dahsyat dalam keragaman plasma nutfah benih lokal.

Ini seharusnya jadi perhatian pemerintah untuk memastikan kekayaan ini dipertahankan dan dikembangkan untuk kesejahteraan dan kemandirian petani dan ketahanan negara bangsa secara umum. (Surya/Benni Indo)​

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *