Loading...

Benih Lokal Tersingkir Kedaulatan Petani Tinggal Kenangan

Oleh:     ROMI ABRORI

KETUA PENGURUS KOPERASI BENIH KITA INDONESIA

APBN 2017 mengalokasikan subsidi benih sebesar Rp1,2 Triliun, untuk memberikan 116.500 ton benih padi dan kedelai kepada petani. Ada juga wacana subsidi ini diganti menjadi pembagian benih unggul gratis langsung ke petani, antara lain benih padi, jagung dan cabe. Subsidi benih ini adalah bagian dari subsidi pertanian yang mencapai Rp.31,1 Triliun di tahun anggaran 2017 ini.

Apakah petani sejahtera dengan subsidi raksasa ini? Tidak. Bahkan banyak keluhan benih yang dibagikan pemerintah terlambat, tidak bermutu dan tidak tumbuh, dan kebocoran dana pada subsidi pertanian termasuk subsidi benih juga tidak main-main angkanya.

Aspek lain soal benih ini adalah: petani menjadi cenderung bergantung pada benih yang disubsidi dan dibagikan oleh pemerintah. Seringkali malahan konteks menggunakan subsidi benih bukan lagi sebagai “hak” tapi sebagai “kewajiban” yang bila tidak dilaksanakan oleh petani menimbulkan konsekuensi yang memberatkan petani. Kriminalisasi petani yang mengembangkan benih sendiri masih mengintai sekalipun UU 12/1992 telah direvisi oleh Mahkamah Agung, namun masih belum cukup melindungi upaya petani untuk berdaulat dan mandiri dalam mengembangkan benihnya sendiri.

Padahal, perlu digarisbawahi bahwa subsidi benih yang diberikan oleh pemerintah kepada petani adalah untuk benih “bersertifikat” dan “berijin” yang dikuasai oleh perusahaan-perusahaan multinasional raksasa, dan semua benih tersebut bersifat mandul. Alias, setelah ditanam dan dipanen tidak bisa lagi menghasilkan benih. Petani harus membeli benih lagi setiap kali masa tanam baru. Ini jelas bentuk ketergantungan yang menjerat dan memiskinkan petani. Perusahaan multi nasional raksasa penghasil dan penyedia benih inilah yang terutama “menikmati” dana alokasi APBN untuk benih. Apalagi, yang mereka kuasai bukan hanya benihnya, tapi juga bahan-bahan kimia pertanian, yang diintroduksi sebagai “keharusan” untuk menghasilkan jumlah panenan yang maksimal. Pada gilirannya bahan-bahan kimia pertanian ini pun merusak ekologi dan daya dukung alam untuk pertanian semakin rendah, seiring semakin meningkatnya ketergantungan pada bahan-bahan kimia tersebut.

Presiden Jokowi pada postingan facebook nya menyebutkan bahwa kita saat ini sudah “berdaulat jagung” karena produksi sudah surplus dan tidak lagi perlu import. Apa betul kita “berdaulat” dalam soal jagung? Bila petani masih (dipaksa) bergantung terhadap benih jagung hibrida (mandul) dari korporasi multinasional, apakah kita bisa mengatakan kita berdaulat jagung?

 

 

Erosi Kekayaan Sumber Daya Genetis

Bahaya apalagi yang mengancam kita dengan tidak berdaulatnya petani atas benih dan bergantungnya petani pada benih hibrida mandul dari korporasi benih? Adalah semakin menghilangnya kekayaan Sumber Daya Genetis (SDG) seiring dengan semakin terkikisnya keahlian pemuliaan benih di kalangan petani sendiri.

Indonesia sebagai negara dengan ribuan pulau menyimpan kekayaan SDG yang luar biasa. Ambil contoh terdekat, Pulau Jawa, sesuai dengan namanya “Jawadwipa” (pulau biji-bijian) merupakan pulau dengan kekayaan biji-bijian pangan (Raffles, S. 1817). Dari berbagai literasi disebutkan bahwa di Jawa ditemukan setidaknya tujuh spesies liar padi dan ribuan varietas lokal padi sehingga layak menyandang gelar Centre of Origin Padi, dan untuk Jagung sebagai secondary origin spesies. Kekayaan plasma nutfah yang dikoleksi Balai Besar Biogen dan Balai Besar Penelitian serta seluruh BPTP di Indonesia setidaknya jagung BB Biogen 1055 aksesi dan padi 3000 an aksesi.

Kekayaan plasma nutfah ini merupakan modal besar untuk merakit varietas unggul. Akan tetapi hari ini kebutuhan petani akan varietas unggulan yg bagus, layak cocok dan adaptif masih jauh dari harapan. Varietas unggulan hasil riset litbang, banyak yang hanya menjadi hasil riset, dan tidak dijumpai di tingkat petani. Petani kesulitan mengakses varietas unggul tersebut. Di sisi lain, pemerintah memberikan subsidi benih kepada petani menggunakan bibit dari perusahaan multinasional. Yang rata rata merupakan benih turunan Galur Mandul Jantan sehingga bersifat tidak dapat ditanam ulang.

Benih lokal, yaitu benih alami yang tumbuh di lokalitas wilayah tertentu merupakan benih yang sudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan merupakan seleksi terus menerus dari generasi ke genrasi oleh petani sejak dahulu kala. Sehingga benih lokal memiliki keunggulan tersendiri, diantaranya adalah sudah terseleksi sesuai pilihan petani, artinya hasil pertanian cocok sebagai pangan setempat, sesuai dengan kontur tanah lokal dan juga berbagai keunggulan lain.

Benih lokal sekaligus merupakan wujud kedaulatan petani di berbagai desa di Indonesia karena benih lokal dapat ditanam ulang. Hal ini mendorong petani untuk bekreatifitas menghasilkan benih yang luar biasa untuk ditanam di musim selanjutnya. Mendorong petani melakukan teknik-teknik penyimpanan benih agar dapat tumbuh optimal di masa mendatang. Hal ini merupakan pengetahuan dan kearifan luar biasa hasil kebudayaan pangan nusantara.

Benih subsidi hibrida yang disebarkan dan dipaksa untuk digunakan seluas-luasnya berakibat makin menghilangnya kekayaan plasma nutfah. Begitu pula keahlian, pengetahuan dan kearifan petani lokal dalam mengembangkan benih unggul. Dengan pasti kita tergiring pada ketergantungan mutlak pada penguasaan perusahaan benih raksasa.

 

Revsi UU no 12 Tahun 1992

Pada tahun 2013 melalui rangkaian panjang perjuangan penggiat-penggiat kedaulatan benih Indonesia, Mahkamah Agung mengabulkan sebagian dari judicial review terhadap pasal-pasal pada UU 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman. Namun sayangnya pasal-pasal yang direvisi sangat terbatas hanya pasal 9 ayat 3 dan pasal 12 ayat 1. Yang artinya, petani pemulia benih lokal belum cukup terlindungi dari kriminalisasi yang bisa dilakukan atas upaya memuliakan benih.

Pemerintah harus dengan sangat cermat melihat betapa penting dan strategisnya melindungi petani atas kedaulatan mereka atas benih lokal. Bahwa tanpa perlindungan kepada petaninya, dan kekayaan plasma nutfahnya, Indonesia sedang menghabisi sendiri kedigdayaannya atas penyediaan pangannya sendiri maupun dunia.

Kita harus bersama-sama mengupayakan agar petani tidak harus membeli benih setiap kali hendak menanam, yang artinya bergantung sepenuhnya pada ketersediaan benih dari luar. Dengan kata lain, mengembalikan kedaulatan petani atas benih, menghidupkan ketrampilan dan kemampuan pemuliaan benih di tangan petani, mengkreasikan sistem yang mendukung keberdayaan dan kekuasaan petani dalam pelestarian dan pemuliaan kekayaan sumber daya genetis, adalah langkah pertama dalam memastikan kedaulatan bangsa Indonesia atas pangan, dan bahkan menjadi penyedia pangan dunia. Ditambah dengan praktik pertanian yang bersahabat dengan alam, yang menjadikan petani menguasai produksi pupuk dan keperluan pertanian alami, lengkaplah kedaulatan petani dan bangsa kita atas produksi pangannya.

Bukankah itu cita-cita kita bersama?

Salam berdaulat,

Romi Abrori

4 thoughts on “Benih Lokal Tersingkir Kedaulatan Petani Tinggal Kenangan

  1. It was not seeing that she was not ready of executing it but it surely was quickly lower priced essay composing company due to the fact that she beloved the best way which i wrote | She felt like my phrases would.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *